Pages

Friday, June 15, 2018

Pengertian Penyusunan Konstruksi Alat Ukur Tes Psikologi

Pengertian Penyusunan Konstruksi Alat Ukur Tes Psikologi


apk67.blogspot.com - Pengertian dan Penyusunan Konstruksi Alat Ukur Tes Psikologi - Artikel ni melatih kita untk membuat alat ukur psikologi yg memenuhi persyaratan sebagai alat ukur yg baik dan benar. Melalui artikel ni diharapkan mampu membuat alat ukur psikologi menggunakan metode dan tahapan yg benar.

A. Manusia adlh makhluk yg unik

Psikologi adlh ilmu yg mempelajari manusia beserta perilakunya. Tapi ilmu ni jg menemukan bahwa kajian mengenai manusia hanya menemukan fakta bahwa tiap manusia unik dan tak ada dua individu yg sama walaupun dua individu yg dibandingkan adlh dua manusia kembar identik. Oleh karena itu, salah satu jargon yg terkenal dlm psikologi adlh individual differences, yaitu ilmu yg mencoba mempelajari perbedaan antar individu.

Banyak keunikan yg ada dlm tiap individu, tapi yg paling mencolok adlh perbedaan fisik.Fakta ni sudah banyak diungkap dlm berbagai kajian dan penelitian hingga digunakan dlm berbagai kehidupan, salah satunya adlh sidik jari. Semirip apapun dua / lebih individu, ternyata keduanya tak akan memiliki sidik jari yg sama.

Jika lebih dlm kita gali tentang manusia, maka kita jg akan temukan bahwa tiap manusia memiliki DNA yg berbeda. Selain DNA dan sidik jari, perbedaan kondisi fisik ni tentunya berdampak pd perbedaan perilaku, sikap, dan kondisi psikologis.Pada dasarnya, fakta awal mengenai keunikan individu dpt kita lihat dari adanya keunikan dlm fisiknya baik yg bersifat kasat mata / yg membutuhkan teknologi khusus untk membedakannya.

Keunikan fisik manusia tentunya akan berpengaruh pd keunikan psikisnya. Individu yg terlahir dgn badan besar dan tinggi akan mendorong lahirnya karakter tertentu yg berbeda dgn individu yg terlahir dgn badan kecil dan rendah. Sebesar apapun upaya lingkungan untk memperlakukan dua orang yg berbeda secara sama, respon dari dua individu yg berbeda terhadap perlakuan yg sama sudah pasti jg berbeda.

Terlebih jika kita melihat bahwa tiap budaya memiliki cara tertentu dlm memperlakukan individu yg disesuaikan dgn karakteristik fisiknya maka sudah tentu respon psikis tiap individu akan berbeda. Pada kembar identik, misalnya, dlm budaya tertentu anak yg lahir terlebih dahulu disebut adik sedangkan pd budaya lain anak yg terlahir lebih dahulu disebut kakak walaupun keduanya hanya selisih beberapa menit bahkan detik pd saat kelahirannya. Sehingga menjadi suatu keniscayaan bahwa tiap individu memiliki karakter psikis yg unik selain jg karakter fisiologis.

Salah satu dampak dari keunikan individu tersebut adlh munculnya upaya penilaian individu oleh individu lainnya. Dalam sebuah masyarakat sosial, individu perlu melakukan penyesuaian perilaku sehingga dibutuhkan upaya penilaian agar penyesuaian yg dilakukannya tepat dan dpt diterima oleh orang lain. Tapi dlm kompleksitas masyarakat modern, penilaian ni menjadi semakin penting terkait dgn tujuan-tujuan tertentu yg menjadi kebutuhan dari masyarakat modern tersebut.
Pengertian & Penyusunan Konstruksi Alat Ukur Tes Psikologi
image source: www.buzzfeed.com
baca juga: Macam-Macam dan Syarat Alat Tes Inventori dlm Psikologi

B. Penilaian Individu

Salah satu tujuan dari penilaian individu adlh untk kebutuhan interaksi. Siswa ketika akan berinteraksi dgn guru, pimpinan ketika akan berinteraksi dgn bawahan, pria ketika akan berinteraksi dgn perempuan, dsb. membutuhkan penilaian sebelum melakukan interaksinya sehingga interaksi yg dilakukannya dpt sesuai dgn maksud dari interaksi tersebut. Tanpa adanya penilaian maka kecil kemungkinan interaksi yg dimunculkan akan berhasil.

Selain kebutuhan interaksi antar individu, penilaiaian jg dilakukan untk kebutuhan identifikasi. Guru dpt melakukan penilaian pd siswanya untk mengetahui masalah pendidikan yg dialami oleh siswa tersebut. Hasil penilaian yg bertujuan untk identifikasi ni dpt ditentukan program yg sesuai dgn siswa didiknya. Hal yg sama jg dpt dilakukan oleh perusahaan terhadap karyawannya, misalnya untk menentukan kebutuhan program pengembangan dan pelatihan bagi karyawan dan siapa yg layak mendapatkannya.

Pemilihan calon karyawan / calon siswa merupakan salah satu bentuk tujuan dari penilaian.Kebutuhan tiap perusahaan berbeda begitu jg dgn daya tampung siswa dlm satu sekolah, oleh karenanya penilaian calon karyawan yg sesuai dgn kebutuhan perusahaan / penentuan siswa yg dpt masuk disuatu sekolah terkait keterbatasan kapasitas menjadi penting. Tanpa adanya penilaian, perusahaan akan bermasalah karena pekerja belum tentu memiliki keahlian / kompetensi yg sesuai dgn dengan kebutuhan perusahaan begitu jg dgn sekolah, tanpa penilaian yg dilanjutkan dgn seleksi program pendidikan dpt menemui banyak hambatan ditengah jalan.

Dalam sebuah pelaksanaan program kegiatan, penilaian dpt dilakukan untk melihat apakah program sudah berjalan sesuai dgn rencana / belum.Dalam hal ini, penilaian dilakukan sebagai bahan evaluasi, baik evaluasi terhadap peserta maupun evaluasi terhadap program kegiatanya. Tanpa penilaian terhadap individu maka sangat sulit untk menentukan apakah dana, tenaga, dan pikiran yg sudah disampaikan dlm program kegiatan dpt dikategorikan sukses / gagal, tepat sasaran / tidak, bermanfaat / tidak, dsb.

C. Perbandingan penilaian

Berdasarkan berbagai tujuan penilaian yg sudah dijelaskan diatas, maka tiap tujuan mengarah pd upaya membandingkan tiap penilaian. Adapun hal-hal yg akan dibandingkan dlm penilaian antara lain: perbandingan penilaian antar individu, perbandingan penilaian individu yg sama diwaktu yg berbeda, penilaian antar individu dlm dua / lebih waktu yg berbeda. Masing-masing perbandingan disesuaikan dgn kebutuhan akan penilaian.

Pada penilaian yg bertujuan menseleksi maka salah satu tujuan penilaian adlh untk menentukan siapa yg lebih berpotensi sebagai karyawan, misalnya, sehingga dpt mendorong perusahaan lebih baik dlm mencapai tujuan dan target-targetnya. Oleh karena itu, orang yg melakukan penilaian dlm seleksi akan melihat potensi calon karyawan yg kemudian disesuaikan dgn kebutuhan perusahaan tersebut. Aspek yg dianggap sebagai potensi tentunya berbeda pd tiap perusahaan dan tiap posisi, misalnya: jika posisi yg dibutuhkan adlh petugas keamanan, maka aspek berpikir kritis mungkin tak menjadi aspek penting jika dibandingkan aspek keberanian.

Dalam penilaian antar individu jg dpt dilakukan dlm upaya memenuhi kebutuhan akan interaksi. Dalam pemilihan teman kelompok, misalnya, penilaian dpt dilakukan dgn membandingkan masing-masing individu dgn karakter orang yg sudah ada dlm kelompok sehingga orang yg terpilih merupakan orang yg lebih baik untk menjadi bagian dari kelompok.Tapi kategori lebih baik tentunya berbeda pd tiap kelompok.

Penilaian yg bertujuan untk melakukan evaluasi, dpt dilakukan dgn membandingkan hasil penilaian pd satu individu pd dua waktu yg berbeda.Individu yg mengikuti kegiatan pelatihan, misalnya, sebelum mengikuti pelatihan dan setelah mengikuti pelatihan dpt dinilai untk melihat ada tidaknya perubahan dlm diri orang tersebut.Dengan mengenali hal ni maka perbaikan kedepan dpt lebih terarah.

Penilaian yg berkaitan dgn evaluasi jg dpt dilakukan untk mengidentifikasi permasalahan yg ada.Permasalahan tersebut dpt berasal dari sistem sosial / sistem institusi / pd aspek eksternal lainnya sesuai dgn konteks penilaian. Jika individu-individu dlm suatu sekolah, sebelum masuk sekolah dan sesudah keluar dari sekolah dan dibandingkan hasil penilaian terhadap kemampuan spesifik ternyata sama maka hasil perbandingan penilaian ni menjadi salah satu bukti untk mengidentifikasi adanya masalah dlm sistem pendidikan di sekolah tersebut.

Penilain lain jg dpt dilakukan pd beberapa individu yg sama dlm beberapa waktu yg berbeda. Berdasarkan hasil penilaian ini, dpt diidentifikasi permasalahan dari individu jika dibandingkan dgn kondisi orang lain. Selain itu, penilaian ni jg dpt dilakukan untk melihat hal-hal yg menjadi kelebihan indidivu dibandingkan yg lainnya dlm proses yg dijalani bersama.

D. Efisiensi Penilaian

Penjelasan diatas menunjukkan bahwa penilaian individu merupakan hal yg penting dlm kehidupan masyarakat modern saat ini.Tapi pentingnya aspek penilaian jg dilengkapi dgn keterbatasan yg dimilikinya. Beberapa keterbatas tersebut antara lain: jumlah orang yg dpt melakukan penilaian dgn tepat terbatas, waktu untk melakukan penilaian terbatas, efisiensi dlm masalah pendanaan, / masalah lain yg mengikuti penilaian baik sebelum / sesudahnya.

Penilaian yg baik harus dilakukan oleh orang yg terlatih karena jika tak maka hasil penilaian tak dpt dipertanggungjawabkan dan cenderung hanya menjadi hasil yg diabaikan. Tapi sayangnya, orang yg terlatih dlm melakukan penilaian sangat terbatas sementara individu yg harus dinilai melebih orang yg akan melakukan penilaian tersebut. Jika membayangkan proses seleksi yg diikuti oleh ribuan orang tapi individu yg terlatih dlm melakukan penilaian kurang dari lima puluh orang maka dpt dibayangkan sulitnya proses penilaian.

Selain keterbatasan jumlah individu yg terlatih dlm melakukan penilaian, kendala lainnya adlh keterbatasan waktu untk melakukan penilaian yg baik.Pada contoh diatas, perusahaan mungkin membutuhkan karyawan baru dlm waktu dekat tapi individu yg terpilihpun diharapkan sesuai dgn kebutuhan perusahaan. Jika calon karyawan yg akan dinilai untk proses seleksi mencapai ribuan sementara tenaga profesional yg ada jumlahnya sangat terbatas maka waktu menjadi kendala besar untk bisa mendapatkan hasil seleksi yg baik.

Masalah diatas belum termasuk permasalahan yg menyerta proses penilaian yg dilakukan oleh tenaga terlatih. Beberapa masalah yg mengiringi, antara lain faktor kelelahan dari penilai, faktor kesiapan, faktor persepsi, dan sebagainya merupakan problem besar dlm penilaian yg harus dilakukan dlm waktu singkat. Dengan demikian, individu yg terlatih dlm melakukan penilaian terhadap individu jg tetap harus berhadapan dgn problem yg menyertai proses penilaian.

Dengan demikian, beberapa gambaran diatas menunjukkan bahwa penilaian individu yg baik harus memasukkan aspek efektifitas dan efisiensi.Efisien dlm waktu, biaya, dan tenaga dan jg prosesnya sehingga efektif dlm mencapai hasil yg diharapkan.Dengan demikian, penilaian individu dlm waktu singkat menjadi isu penting yg harus diatasi.

E. Masalah dlm penilaian individu

Sebelum lebih dlm membahas persoalan efektifitas dan efisien, perlu jg dikenali permasalahan yg akan dihadapi terkait dgn penilaian individu ini. Penilaian individu oleh individu lain memiliki beberapa permasalahan yg akan mengancam efektifitas hasil penilaian, antara lain: masalah subjektifitas, kondisi penilai, pra kondisi penilai, dan konsistensi penilai. Beberapa permasalah mungkin dpt diatasi seiring proses latihan tapi permasalahan lain tetap akan muncul terutama jika penilaian dikaitkan dgn efisiensi dlm berbagai aspek.

Subjektifitas merupakan masalah yg sangat sulit dihindari jika penilaian terhadap individu dilakukan oleh individu lain terutama jika mereka bertemu secara langsung. Rasa suka rasa tak suka terkait dgn masalah kesukuan, agama, gaya bicara / gaya berpakaian pun dpt mengarah pd bias penilaian. Bagaimanapun individu menghindari bias subjektifitas tapi sebagai manusia hal ni sangat sulit untk dicegah agar tak terjadi.

Kondisi orang yg melakukan penilaian pd saat itu jg akan mempengaruhi hasil penilaian. Rasa mengantuk, lapar, haus, sakit perut / hal-hal kecil lainnya akan mempengaruhi hasil yg didapat dari proses penilaian yg dilakukan. Hal ni tetap dpt terjadi walaupun proses penilaian dilakukan oleh individu yg sangat berpengalaman.

Pra kondisi dari penilai jg tentunya akan mempengaruhi hasil penilaian. Masalah rumah tangga, masalah perjalanan, dan sebagainya merupakan masalah yg mengiringi individu sehingga mempengaruhi kondisi penilaian pd saat melakukan penilaian. Tuntutan profesionalitas mungkin dpt disampaikan tapi hal ni tentunya akan bertabrakan dgn kondisi bahwa individu yg melakukan penilaian memiliki beberapa kerterbatasan yg sesungguhnya bersifat manusiawi.

Berbagai permasalahan yg mengiringi penilaian diatas, berujung pd menurunnya konsistensi hasil penilaian dan proses penilaian. Jika demikian, yg akan dirugikan tak hanya indidivu yg dinilai tapi jg dpt terjadi pd perusahaan, misalnya, yg kehilangan calon karyawan potensial karena tak teratasinya masalah dlm penilaian individu ini. Hal yg sama jg dpt terjadi pd siswa di sekolah, penilaian yg salah dpt mengarah pd hilangnya harapan siswa terhadap cita-citanya.

F. Tes sebagai Upaya mengatasi masalah


Kehadiran tes-tes psikologi dlm berbagai bentuknya tentunya bertujuan meningkatkan efektifitas dan efisiensi dlm proses penilaian individu. Dengan tujuan yg sama dan tetap dlm konteks seleksi, evaluasi, identifikasi, dan sebagainya tes-tes psikologi merupakan salah satu produk instan dari proses penilaian individu yg diharapkan dpt mengatasi berbagai permasalahan yg dihadapi dlm proses penilaian individual. Begitu jg dgn permasalahan subjektifitas, konsistensi, dan sebagainya diharapkan dpt diatas dgn kehadiran tes-tes psikologi.

Kehadiran tes psikologi dpt mengatasi permasalahan subjektifitas karena tes-tes psikologi memiliki standar yg lebih baku karena lebih sedikit intervensi dari persepsi dan mispersepsi individu. Dengan tes psikologi data lebih mudah dibandingkan dan dari hasil perbandingan lebih mudah dlm menentukan keputusan terhadap hasil penilaian individu tersebut.Dengan kehadiran tes psikologi, pertanggungjawaban lebih dpt dikontrol oleh berbagai pihak.

Tes-tes psikologi menyebabkan penilaian individu tak bergantung pd satu pihak tapi lebih pd sistem penilaian itu sendiri.Oleh karenanya, penilaian dpt lebih dikontrol dan kondisi penilai yg dpt mempengaruhi objektifitas hasil penilaian dpt diminimalisir.Dengan demikian, tes psikologi dpt menghasilkan luaran yg lebih konsisten.

G. Tuntutan Ketepatan Penilaian Tes Psikologi

Bagaimanapun juga, tes psikologi adlh alat yg digunakan oleh penilai untk membantunya dlm proses penilaian individu. Sebagai alat bantu, tes psikologi perlu dibuktikan memiliki ketepatan dan kesesuaian dlm hasil akhirnya. Oleh karena itu, untk mencegah munculnya masalah akibat penggunaan alat yg tak tepat dan sesuai kebutuhan maka tes psikologi harus memiliki aspek validitas dan reliabilitas.

Aspek validitas merupakan aspek utama dlm tes psikologi. Sebuah instrumen tes psikologi akan dinyatakan valid jika hasil penilaiannya sesuai dgn kenyataannya. Sebagai contoh, sebuah tes psikologi yg ingin melihat kemampuan untk menganalisa masalah dari seorang individu harus menunjukkan bahwa orang yg dinyatakan mampu berdasarkan hasil tesnya jg terbukti mampu menganalisa masalah sesuai dgn dasar penilaian yg dimaksud oleh tes psikologi.

Aspek reliabilitas jg merupakan aspek penting dlm menjamin ketepatan penilaian.Sebuah tes psikologi mungkin tak valid tapi jika tes tersebut cukup reliabel maka tes psikologi ni bisa digunakan dgn beberapa penyesuaian.Jika sebuah tes psikologi dimaksudkan untk melihat motivasi bekerja tapi faktanya tes tersebut mengidentifikasi motivasi berprestasi maka tes ni dpt dinyatakan reliabel dan dgn beberapa penyesuaian tes ni dpt menjadi valid.

H. Jenis pengukuran psikologi

Secara umum pengukuran psikologi meliputi aspek afektif dan aspek kognitif.Pengukuran aspek afektif jg dikenal dgn tes performa tipikal dan pengukuran aspek kognitif dikenal jg dgn istilah tes performa maksimal.Keduanya merupakan bagian dari tes psikologi yg berupaya menilai individu tapi penggunaannya secara umum cukup berbeda walaupun perbadaannya bukan perbedaan yg bersifat mutlak.

Tes performa maksimal adlh pengukuran psikologi yg ingin melihat seberapa besar potensi yg dimiliki oleh individu walaupun potensi tersebut belum pernah dimanfaatkan secara optimal.Salah satu bentuk tes dari model ni adlh tes intelegensi. Tes intelegensi mungkin menyatakan bahwa individu dpt menyelesaikan masalah dgn lebih cepat tapi bukan berarti individu yg dinilai selalu menyelesaikan masalah dgn cepat karena adanya faktor lain yg mempengaruhi, misalnya faktor lingkungan yg mempengaruhi konsentrasi.

Tes performa maksimal ni banyak digunakan dlm bidang seleksi baik diperusahaan maupun di sekolah / institusi lainnya.Dengan tes ni diharapkan lembaga yg melakukan tes mendapatkan individu potensial yg siap mengembangkan lembaga mereka dgn lebih baik.Selain itu, tes-tes seperti ni jg digunakan untk menentukan pola program / hal lainnya sehingga individu dpt dioptimalkan segala potensi yg dimiliki.

Sedangkan tes performa tipikal banyak ditujukan untk kegiatan penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan. Tapi dlm level praktis tes ni jg digunakan untk proses seleksi karyawan dan proses identifikasi. Salah satu tes dlm model ni adlh tes kepribadian (mis: TAT) yg hasilnya dpt digunakan untk mengidentifikasi permasalah individu.

Tes performa maksimal ketika digunakan dlm proses seleksi jg dpt digunakan dan diantaranya adlh tes wartegg dan sejenisnya. Berdasarkan tes ini, institusi yg melakukan seleksi ingin memilih individu dgn karakter yg sesuai dgn kebutuhan di institusinya.Sangat mungkin institusi membutuhkan individu dgn karakter agresif karena adanya tuntutan terkait hal itu dlm institusi tersebut.

I. Perlengkapan Penilaian

Sebagai alat, tes psikologi membutuhkan perlengkapan pendukung.Perlengkapan paling umum dlm tes psikologi adlh penggunaan kertas dan pensil / pulpen.Tapi di luar itu, jg dpt dilakukan dgn menggunakan komputer, dan sebaginya.

Selain perlengkapan yg akan digunakan oleh orang yg akan dinilai, perlengkapan jg dibutuhkan untk menilai, misalnya penilaian dilakukan melalui observasi terencana maka perlengkapan yg dibutuhkan mungkin adanya ruang buatan / semacam laboratorium untk melihat apakah aspek yg dinilai muncul dlm ruangan tersebut. Perlengkapan ni bahkan hampir tak terbatas yg dpt disesuaikan dgn model penilaian yg dilakukan.

Gambar, foto, cerita dan sebagainya bisa jadi merupakan hal-hal yg akan dibutuhkan oleh penilai dlm menjalankan proses penilaian individu yg dilakukannya. Terlepas dari beragam kebutuhan dan alat yg akan digunakan, validitas dan reliabilitas dari tes yg dimaksud harus dpt teruji. Oleh karena itu, pemahaman terhadap konsep operasionalisasi dan metode pengkonstruksian alat ukur psikologi merupakan aspek yg penting.

J. Kelemahan Tes Psikologi

Sebagai hasil karya manusia dan proses panjang pencarian konsep yg baik, tes psikologi jg memiliki beberapa kelemahan. Salah satu kelemahan yg cukup signifikan adlh aspek fleksibilitas dari tes tersebut yg dpt mempengaruhi hasil penilaian.Tes psikologi secara umum hanya memiliki satu dimensi, misalnya penilaian hanya menggunakan tulisan soal berupa butir pertanyaan sehingga pd individu yg memiliki gangguan pengelihatan maka tes ni menjadi tak cukup fleksibel.

Kelemahan lain yg ada dlm tes psikologi misalnya efek latihan dari individu yg dinilai. Individu yg sudah terbiasa dgn tes akan mudah beradaptasi dan akan langsung memahami hal-hal yg harus dilakukan bahkan disiasati dlm tes psikologi. Dengan demikian inidividu yg sudah mengalami proses belajar dan berlatih maka akan lebih bik baginya dlm merespon stimulus yg ada dlm psikotes. Oleh karena itu, kelemahan ni jg perlu disiasati oleh penilai dgn tak terpaku pd sedikit tes psikologi saja.

Tapi dari berbagai kelemahan tes psikologi yg awalnya dikembangkan untk menutupi kelemahan pd penilaian personal, maka pengembangan tes-tes psikologi dgn berbagai metode yg lebih baik dpt terus dilakukan sehingga tes psikologi sebagai salah satu alat untk melakukan penilaian menjadi lebih baik dan dpt dipercaya. Perkembangan teknologi jg diharapkan mampu untk terus memperbaiki berbagai metode yg dikembangkan dlm tes-tes psikologi.

Terlepas dari semua permasalahan dan pembahasan di atas, perlu disadari bahwa tes psikologi hanyalah alat bantu penilaian. Pada akhirnya yg akan memberikan penilaian akhir adlh manusia itu sendiri. Dengan demikian perlakukan terhadap tes psikologi jg tak perlu terlalu berlebihan sehingga mengabaikan peran manusia sebagai pengambil keputusan akhir.
Sekian artikel tentang Pengertian dan Penyusunan Konstruksi Alat Ukur Tes Psikologi.

other source : http://liputan6.com, http://kompas.com, http://ilmupsikologi.com



visit link download